March 25, 2026

Pendidikan dokter spesialis Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular merupakan program yang bertujuan membentuk peserta didik menjadi Spesialis Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular  yang mempunyai rasa tanggung jawab dalam pengamalan ilmu kesehatan sesuai kebijakan pemerintah. Peserta didik dituntut untuk mempunyai pengetahuan yang luas dalam bidang Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular  dan mempunyai sikap serta keterampilan yang baik sehingga mampu memecahkan masalah kesehatan secara ilmiah. Peserta didik juga diharapkan dapat menentukan, merencanakan, melaksanakan pendidikan dan penelitian, mengembangkan ilmu ke tingkat akademik yang lebih tinggi serta mengembangkan sikap pribadi sesuai dengan etik ilmu dan etik profesi.

Program pendidikan dokter spesialis (PPDS) Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular  di Indonesia saat ini dilaksanakan oleh 4 (empat) institusi penyelenggara program pendidikan dokter yang memiliki keabsahan izin dari Kementrian Pendidikan Nasional untuk menyelenggarakan program pendidikan spesialis. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa standar nasional pendidikan merupakan kriteria minimal sistem pendidikan yang berlaku di wilayah NKRI. Bedasarkan hal ini, setiap institusi penyelenggara PPDS Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular  wajib memiliki standardisasi dan pembakuan mutu yang dapat diwujudkan dengan menerapkan standar nasional pendidikan.

Landasan Filosofis

Program Studi Bedah Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular dibentuk mempertimbangkan cita-cita atau falsafah UNHAS sebagai salah satu universitas terbesar di Indonesia, dan yang terbesar di kawasan timur Indonesia. Falsafah tersebut adalah terdepan dalam berkhidmat bagi bangsa Indonesia, khususnya dalam pembangunan bidang Kesehatan, dalam hal ini dalam pelayanan bedah Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular .

Proses pendidikan di Prodi Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular  mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular  terkini yang disesuaikan dengan tuntutan mutu pelayanan rumah sakit dan peningkatkan mutu proses pembelajaran sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi sehingga dapat menghasilkan dokter spesialis Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular  yang siap menghadapi dan memiliki peluang memenangkan tantangan kehidupan yang semakin kompleks.

Landasan Yuridis

Pembukaan Prodi Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular  FK Unhas dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan dokter spesialis Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular  di tengah-tengah masyarakat sebagaimana amanah Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi dan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2014 tentang Universitas Hasanuddin (Unhas) sebagai PTN Badan Hukum memberikan landasan yang kuat bagi Unhas dalam menjamin ketersediaan sentra Pendidikan Dokter spesialis

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia dan Peraturan Menteri  Riset,  Teknologi,  dan  Pendidikan  Tinggi Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2018 tentang Standar Nasional Pendidikan Kedokteran (SNPK) maka Kolegium Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular  Indonesia dengan melibatkan pemangku kepentingan dan disahkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia (KKl) menyusun standar pendidikan dokter spesialis Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular  yang mengacu pada Standar Nasional Pendidikan Kedokteran. Standar ini merupakan acuan dalam menyelenggarakan pendidikan dokter spesialis Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular  dan kriteria minimal komponen pendidikan yang harus dipenuhi di setiap pusat pendidikan Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular  di seluruh Indonesia guna menghasilkan lulusan dokter spesialis Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular  berkualitas serta dapat mencapai kompetensi yang diharapkan. Selain itu, dengan disusunnya Standar Pendidikan Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular, diharapkan percepatan pembentukan program subspesialis Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular  dapat dilaksanakan.

Landasan Sosiologis

Prodi Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular  FK Unhas yang akan dibentuk ini untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam pelayanan Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular . Kawasan Timur Indonesia memiliki kasus trauma dan kegawatdaruratan terbanyak yang ditangani dibidang Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular. Data yang dikumpulkan dari RSUP DR Wahidin Sudirohusodo pada tahun 2018 – 2021, kasus terbanyak untuk Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular adalah (2531 kasus), namun masih banyak daerah-daerah di Kawasan Timur Indonesia yang belum memiliki spesialis Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular.

Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi dan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2014 tentang Universitas Hasanuddin (Unhas) sebagai PTN Badan Hukum memberikan landasan yang kuat bagi Unhas dalam menjawab tantangan yang semakin kompleks dan dinamis abad ini. Kemampuan merumuskan langkah strategis dalam mewujudkan visi misi Unhas adalah keniscayaan. Sebagai institusi mandiri, Unhas harus mampu melakukan antisipasi yang sistematis dan holistik dalam mengelola institusinya.

Distribusi Ahli Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular (INDONESIA)

Peningkatan kebutuhan masyarakat akan kebutuhan pelayanan kesehatan khususnya pelayanan pasien Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular (BTKV) dengan perbandingan saat ini antara jumlah penduduk Indonesia ± 270 juta dan jumlah dokter spesialis Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular yang saat ini berjumlah ± 165 orang sehingga masih dibutuhkan institusi-institusi pendidikan tambahan untuk mendidik dokter spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular sehingga pelayanan kesehatan dibidang BTKV dapat merata di seluruh wilayah Indonesia.

Menanggapi program pemerintah pusat dalam rangka akselerasi pelayanan jantung di Indonesia, maka Divisi Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular Fakultas Kedokteran Universitasersitas Hasanuddin Makassar melakukan upaya pendirian Program Studi Bedah Toraks, Kardiak dan Vaskular untuk menghasilkan calon-calon dokter bedah muda dibidang keilmuan Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular sebagai yang pertama diregional Sulawesi, dan menjadi yang kelima di Indonesia sehingga dokter-dokter dari Indonesia Timur yang memiliki minat di bidang BTKV tidak perlu jauh-jauh untuk dapat menempuh pendidikan.

Pelopor bedah jantung dan paru-paru di Indonesia adalah Prof. Margono Soekardjo di Jakarta, (pendidikan Belanda) dan Dr. Eri Soedewo (pendidikan Swedia). Pada tahun 1948 Prof. Margono Soekardjo melakukan operasi perbaikan katup mitral pada kasus stenosis mitral dengan teknik fraktur jari. Kemudian pada tahun 1955 dr. Irawan Suria Santosa mengerjakan operasi PDA dan mitral stenosis, sedangkan pada tahun 1957 beliau melakukan operasi BT Shunt dan penutupan ASD dengan teknik inflow oklusi.

Operasi jantung terbuka menggunakan mesin pintas jantung-paru dimulai pada tahun 1958 di Jakarta oleh dr. Wullf (Swedia) dibantu oleh dr. Eri Soedewo. Kemudian dr. Irawan Suria Santoso bersama dr. Soerarso Hardjowasito pada tahun 1962 dengan melakukan operasi jantung terbuka dengan teknik hipotermia pada 10 kasus ASD Sekundum.

Di Surabaya, bedah toraks dipelopori oleh dr. Pouw Tek Hie dengan melakukan bedah Lung-Schwarte, empyema, thoracoplasty dan plombage, dan dilanjutkan oleh dr. Liem Bing Hwie dan dr. A. Hidayat Hamami. Kemudian dengan bantuan dr. McCain dari UCLA, mereka kemudian melakukan ligasi PDA. Sedangkan di Malang, bedah toraks dipelopori oleh dr. Achmad Johar spesialis Paru-paru dan di Bandung oleh dr. Koestedjo, dan di Jakarta bedah toraks dipelopori oleh dr. Djamaloedin dan dr. Irawan Soeria Santoso.

Pada tahun 1978, bersamaan dengan diselenggarakannya Kongres IKABI di Medan, didirikanlah Perhimpunan Ahli Bedah Kardiovaskular Indonesia yang disingkat “HATI” yang merupakan cikal bakal berdirinya Perhimpunan Ahli Bedah Jantung Toraks Indonesia dan tercatat sebagai pendirinya adalah dr. Soerarso Hardjowasito, dr. Puruhito, dan dr. Panusunan Nasution, didukung oleh Prof. Koestedjo, dr. John Pieter dan dr. Djang Jusi.

Ketua “HATI” adalah dr. Soerarso Hardjowasito dengan Sekjen dr. Puruhito. Dalam perjalanan waktu dan kesepakatan para anggota, Perhimpunan mulai tahun 1983 diubah menjadi “HBTKVI”, yang merupakan singkatan dari “Perhimpunan Ahli Bedah Toraks dan Kardiovaskular Indonesia”.

Kemudian pada tanggal 25 Maret 1994 mulai diaktifkan operasi bedah jantung di Makassar setelah dibuat MOU antara RS Dr. Wahidin Sudirohusodo yang diwakili oleh Direktur RS Wahidin Sudirohusodo  dr. Wahid Baelang, dari Departemen Bedah FK Unhas Makassar yang diwakili oleh Prof dr. Farid Nur Mantu, dan dengan RS Jantung Harapan Kita Jakarta yang diwakili oleh Dirut RS Jantung Harapan Kita dr. Soerarso Hardjowasito dan dr. Soemanto.

Saat itu dilakukan pula kerjasama tripartite antara RS Jantung Harapan Kita, RS Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang diwakili oleh Gubernur Sulawesi Selatan Prof. DR. Ahmad Amiruddin, yang saat itu diputuskan bahwa akan dilakukan tindakan 50 pasien bedah jantung selama setahun atas biaya pemerintah Provinsi Sulawesi selatan.

Pada tahun 1978 telah diberikan sertifikat kepada tiga dokter terbaik lulusan Fakultas Kedokteran Unhas dr. L Rajawane, dr. Sumantri Sarimin, dan dr. Frieda Hoesan oleh THORAX CENTRUM CENTRE FOR THE DIAGNOSIS AND TREATMENT OF CARDIOVASCULAR DISEASES UNIVERSITY HOSPITAL ERASMUS UNIVERSITY ROTTERDAM THE NETHERLAND tepatnya di Kota DIJKZIGT (under supervision of Prof NAUTA , Prof Paul G.H, Miss G. den HOLLANDE)  dr. L Radjawane sebagai ahli bedah jantung, dr. Sumantri Sarimin sebagai Perfusionist, dan dr. Frieda Hoesan sebagai Kardiak Intensivist.

Kemudian kemampuan kompetensi tim Bedah Jantung Univ Hasanuddin dan RS Dr Wahidin Sudirohusodo ditingkatkan lagi dengan mengiriman tenaga dokter ke RS Jantung Harapan Kita Jakarta  antara lain Prof. Dr. dr Irawan Jusuf sebagai perfusionist, Prof Dr. dr. Syafri K. Arif sebagai Cardiac anestesi, dr. Hisbullah Amin sebagai Cardiac Anestesi dan Perfuisonist dan dr. Muslim Tadjuddin Chalid sebagai Cardiac Anaestesi khusus jantung anak.

Kemudian tahun 1993 Departemen Bedah FK UNHAS mengirimkan tenaga dokter Bedah Umum yaitu dr. Muhammad Nuralim Mallapasi, Sp.B untuk belajar Bedah Jantung Toraks dan Vaskular ke Universitas Indonesia, selanjutnya mengambil Fellow Bedah Jantung Dewasa di Melbourne University Austin Hospital Vic Australia selama 14 bulan.

Selanjutanya berturut-turut mengirim dokter umum untuk belajar Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular ke Universitas Airlangga masing dr. Jayarasti Kusumanegara, dr. Umar Usman, M.Ked.Klin, dr. Maikel Triyudi Tappang, MKed.Klin dan dr. Muhammad Zulfadly Nuralim, MKed.Klin.

Berlanjut kerjasama pelayanan tindakan bedah Jantung dewasa dengan RS Jantung Harapan Kita untuk pelayanan Bedah Jantung Dewasa sampai tahun 2015, Kemudian datang dr. Rosie, Sp.BTKV atas rekomendasi dari Kementerian Kesehatan RI, selanjutnya dibantu juga oleh dr. Agung Wibawanto dari RS Persahabatan Jakarta yang sampai saat ini berstatus sebagai dosen Luar Biasa UNHAS, kemudian pelayanan Bedah Jantug Kongenital masih disupervisi oleh Dr. dr. Dicky Fachri dari RS Jantung Harapan Kita.

Kemudian “Full operational“ Pusat Jantung Terpadu (PJT) sebuah gedung yang dibangun oleh Kemeterian Kesehatan RI dilingkungan RS Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar, untuk pelayanan Bedah Jantung Dewasa dan Bedah Jantung Anak, setelah ahli Bedah Jantung telah kembali dari pendidikan di Universitas Indonesia dan Universitas Airlangga.